Bisnis Cacahan Plastik yang Jadi Inspirasi

Bisnis Cacahan Plastik yang Jadi Inspirasi

Artikel ini memuat mengenai Bisnis cacahan plastik yang bisa menjadi Inspirasi untuk Para Pebisnis untuk meraup keuntungan. Hampir setiap daerah selalu dihadapkan pada permasalahan sampah. Berdasarkan data Jenna Jambeck (2015), seorang profesor teknik lingkungan dari Universitas Georgia- AS, Indonesia menempati urutan kedua di dunia sebagai negara penyumbang sampah plastik terbesar yang dibuang ke laut dengan jumlah 187,2 juta ton.

Problem sampah di Indonesia ini, menurut Baedowy, akan selesai apabila setiap badan milik negara maupun swasta mengarah ke pemberdayaan masyarakat. “Harusnya perusahaan tidak hanya memberikan ikan pada masyarakat, tetapi juga kolam serta kailnya, sehingga dengan mengolah sampah, masyarakat punya penghasilan tambahan dan bisa mandiri,” ujarnya.

Pengelolaan Sampah

Menurut Baedowy sampah harus dikelola dari sumbernya, termasuk sampah rumah tangga. Namun sayangnya, sebagian besar masyarakat Indonesia belum peduli terhadap lingkungan. Karena itu, dibutuhkan edukasi yang butuh waktu. “Bayangkan, berapa banyak sampah plastik yang akan berkurang jika di setiap rumah memiliki mesin daur ulang sendiri, tidak perlu repot-repot dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA),” kata lelaki yang telah meraih penghargaan Industri Hijau Tingkat Nasional 2010 dari Kementerian Perindustrian itu.

Melalui program kemitraan yang selama ini dia prakarsai, Baedowy pun bertekad ingin membagikan ilmunya pada semua orang agar sampah bukan lagi menjadi masalah saat ini.

Usaha Sampah

Sesuai dengan nama usahanya, yakni Majestic Buana yang berarti mengagungkan bumi, Baedowy ingin memuliakan bumi dengan mengurangi beban sampah plastik di muka bumi. Semoga langkahnya ini dapat diikuti yang lain.

Dari awalnya hanya bermodalkan satu mesin dan satu karyawan, dalam dua tahun, bisnisnya bisa menghidupi lebih dari 50 karyawan dan ratusan pemulung lainnya.

Tahun 2000, ia mendirikan Majestic Buana Group. Saat ini, ia telah bekerjasama dengan lebih dari 150 mitra pencacah botol plastik di berbagai daerah. Jika satu mitra mempekerjakan minimal 5 orang, setidaknya ada 750 yang terlibat dalam bisnis ini. Itu belum termasuk lapak pengepul dan pemulung. Karena usahanya ini, ia meraih penghargaan sebagai Wirausaha Terbaik pada ajang Dji Sam Soe Award 2009.

Setiap minggu, tiap mitra rata-rata menghasilkan 3 ton–5 ton cacahan plastik. “Dulu semuanya jual ke saya, tapi kini di daerah sudah ada buyer lain,” ujar pria yang hobi berburu ini. Jika ada mitra memasok cacahan plastik, ia mengambil margin Rp 500-Rp 1.000 per kilogram (kg) tergantung bahan baku.

Setiap minggu, tempat usaha Baedowy di Bekasi bisa menghasilkan 6 ton–10 ton cacahan plastik. Ini belum termasuk cacahan plastik yang dia peroleh dari mitranya.

Baedowy menjual 70% cacahan plastik ke China, sisanya dijual ke pasar lokal. Permintaan akan naik setiap Juni sampai Agustus. Sebaliknya, Desember sampai Februari, permintaan akan turun. “Kecenderungannya seperti itu,” katanya.

Baedowy juga ikut memberdayakan mitranya. Ia memberikan pelatihan dari nol sehingga mereka dapat memproduksi plastik gilingan sendiri. Baginya, komunikasi menjadi kunci dalam membangun hubungan baik dengan mitra.

Baedowy juga memproduksi mesin pencacah dengan aneka kapasitas. Dalam sebulan, ia bisa menjual dua mesin sampai tiga mesin dengan harga Rp 25 juta-Rp 36 juta per unit. Jika ingin melengkapi dengan alat tambahan, seperti sasis mesin, vanbelt, mesin pompa air sirkulasi, dan kunci, harganya Rp 33 juta – Rp 45 juta per mesin.

Melihat tingginya minat masyarakat pada bisnis pengolahan botol plastik, Baedowy kini membuat mesin untuk produksi skala rumah tangga. “Mesin ini nanti memakai tenaga listrik 750 watt dan dibanderol sekitar Rp 10 juta per unit,” katanya.

Selain menjalankan bisnis, Baedowy juga disibukkan oleh kegiatan mengajar dan menjadi pembicara di berbagai perguruan tinggi. Ia juga sedang melanjutkan pendidikan S2 di Institut Pertanian Bogor (IPB). “Sebagai pengusaha, pendidikan itu penting,” katanya.

sahabat juga bisa membaca artikel sebelumnya mengenai cara mendaur ulang sampah